MAKNA HARI RAYA NYEPI

Banyak kalangan lain melihat keunikan tersendiri bagi umat Hindu Nusantara merayakan Tahun Barunya. Umat lain merayakannya dengan kemeriahan, pesta makan-minum, pakaian baru, dan sebagainya.

Umat Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistem kalender Hindu Nusantara, yaitu di saat “Uttarayana” (hari pertama matahari dari katulistiwa menuju ke garis peredaran di lintang utara), merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana hening:

  1. Tanpa kegiatan (amati karya)
  2. Tanpa menyalakan api (amati gni)
  3. Tidak keluar rumah (amati lelungaan)
  4. Tanpa hiburan (amati lelanguan)

yang dikenal dengan istilah “Catur Berata Penyepian”.

Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mengadakan koreksi total pada diri sendiri, serta menilai pelaksanaan trikaya (kayika = perbuatan, wacika = perkataan, manacika = pikiran) di masa lampau, kemudian merencanakan trikaya parisudha (trikaya yang suci) di masa depan.

Di hari itu pula umat Hindu mengevaluasi dirinya, sudah seberapa jauhkah tingkat pendakian rohani yang telah dicapainya, dan sudahkah masing-masing dari kita mengerti pada hakekat tujuan hidup di dunia ini.

Dengan amati karya, kita mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tapa, berata, yoga, dan samadhi; dalam suasana amati gni, pikiran akan lebih tercurah pada telusuran kebathinan yang tinggi; pembatasan gerak bepergian keluar rumah berupa amati lelungaan dengan mengurung diri di suatu tempat tertentu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mensucikan pikiran.

Tempat itu bisa di rumah, di Pura atau di tempat suci lainnya. Tentu saja dalam prosesi itu kita wajib menghindarkan diri dari segala bentuk hiburan yang menyenangkan yang dinikmati melalui panca indra (amati lelanguan).

Kemampuan mengendalikan panca indra adalah dasar utama mengendalikan kayika, wacika, dan manacika sehingga jika sudah terbiasa akan mudah melaksanakan tapa yadnya. Walaupun tidak dengan tegas dinyatakan dalam susastra, pada hari Nyepi seharusnya kita melakukan upawasa atau berpuasa menurut kemampuan masing-masing.

Jenis-jenis puasa antara lain: tidak makan dan minum selama 24 jam, atau siang hari saja, atau bentuk puasa yang ringan, yaitu hanya memakan nasi putih dengan air kelapa gading yang muda.

Setelah Nyepi, diharapkan kita sudah mempunyai nilai tertentu dalam evaluasi kiprah masa lalu dan rencana bentuk kehidupan selanjutnya yang mengacu pada menutup kekurangan-kekurangan nilai dan meningkatkan kualitas beragama.

Demikianlah tahun demi tahun berlalu sehingga semakin lama kita umat Hindu akan semakin mengerti pada hakekat kehidupan di dunia, yang pada gilirannya membentuk pribadi yang dharma, dan menjauhi hal-hal yang bersifat adharma.

Hari raya Nyepi dan hari-hari raya umat Hindu lainnya merupakan tonggak-tonggak peringatan penyadaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi lebih banyak pada segi tattwa atau falsafahnya.

Seandainya mayoritas umat Hindu Nusantara menyadari hal ini, pastilah masyarakat yang Satyam, Siwam, Sundaram akan dapat tercapai dengan mudah.

Kelemahan tradisi beragama umat Hindu khususnya yang tinggal di Bali, adalah terlalu banyak berkutat pada segi-segi ritual (upacara) sehingga segi-segi tattwa dan susila kurang diperhatikan. Tidak sedikit dari kita merasa sudah beragama hanya dengan melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya saja.

Salah satu segi tattwa yang kurang diperhatikan misalnya mewujudkan trihitakarana. Perkataan ini sering menjadi slogan yang populer, diucapkan oleh berbagai tokoh dengan gempita tanpa menghayati makna dan aplikasinya yang riil di kehidupan sehari-hari.

Trihitakarana, tiga hal yang mewujudkan kebaikan, yaitu:

  1. Keharmonisan hubungan manusia dengan Hyang Widhi (Pariangan)
  2. Keharmonisan hubungan manusia sesama manusia (Pawongan)
  3. Keharmonisan hubungan manusia dengan alam (Palemahan)

Trihitakarana bertitik sentral pada manusia, dengan kata lain Trihitakarana bisa terwujud jika manusia mempunyai tekad yang kuat melaksanakannya. Tekad yang kuat harus disertai dengan pengertian yang mendalam dan kebersamaan sesama umat manusia.

Trihitakarana tidak bisa diwujudkan hanya oleh seorang diri atau sekelompok orang saja. Itu harus dilakukan bersama-sama oleh semua manusia, bahkan manusia beragama apapun.

Manusia yang pendakian spiritualnya cukup akan mencintai Tuhan (Hyang Widhi). Cinta kepada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih luas disebut “bhakti”. Ruang lingkup ini misalnya: bhakti kepada Tuhan, negara, bangsa, rakyat, dll.

Tinjauan khusus tentang bhakti kepada Hyang Widhi, wujudnya adalah kasih sayang kepada semua ciptaan-Nya, yaitu mahluk hidup: manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan; demikian pula kepada ciptaan-Nya yang lain misalnya alam semesta.

Seseorang yang mengaku sebagai “bhakta” (orang yang berbhakti) tidaklah tepat jika ia menunjukkan bhaktinya itu kepada Hyang Widhi hanya dalam bentuk berbagai ritual saja. Ia juga harus mewujudkan cinta dan kasih sayang kepada semua mahluk, khususnya kepada sesama manusia.

Rasa kasih sayang kepada sesama manusia hendaknya benar-benar datang dari hati nurani yang bersih dan tulus tanpa keinginan mendapat balas jasa atau imbalan dalam bentuk apapun. Filsafat Tattwamasi merupakan panduan yang bagus kearah ini.

Masyarakat yang individu-individunya telah mampu melaksanakan ajaran Agama dengan baik akan mewujudkan keadaan yang disebut sebagai satyam, siwam, sundaram, yakni masyarakat yang saling menyayangi sesamanya, kebersamaan yang harmonis dan dinamis, berkeimanan yang kuat dan sejahtera lahir-batin.

Manusia dalam upayanya mencapai kehidupan satyam, siwam, sundaram tidaklah dapat berdiri sendiri-sendiri. Ia memerlukan berbagai hubungan yang harmonis dengan manusia lain, atau jelasnya, manusia membutuhkan kelompok tertentu yang sehaluan dalam pemahaman keimanan, kepentingan politik, kepentingan ekonomi, kepentingan sosial, dan kepentingan budaya.

Prinsip-prinsip jalinan hubungan yang harmonis itu sebagaimana bunyi slogan:

SAGILIK-SAGULUK SALUNGLUNG SABAYANTAKA, PARAS-PAROS SARPANAYA, SALING ASAH, SALING ASIH, SALING ASUH

Artinya: bersatu-padu menyusun kekuatan menghadapi ancaman/ bahaya, memutuskan sesuatu secara musyawarah mufakat, saling mengingatkan, saling menyayangi, dan saling membantu.

Slogan ini bersifat dinamis, dapat digunakan baik dalam lingkungan kecil seperti rumah tangga, maupun dalam lingkungan yang lebih besar seperti paguyuban, Banjar, dan Desa, bahkan dalam lingkungan Nusantara dan Internasional. Untuk lingkungan yang lebih luas kepentingan yang disatukan biasanya menyangkut ideologi, antara lain bidang keimanan/ agama dan politik.

Azas-azas kebersamaan sebagai umat Hindu dapat dikembangkan seluas-luasnya karena akan bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan. Kebersamaan itu pula dapat sebagai benteng yang melindungi, mengayomi umat sedharma dari ancaman-ancaman pihak lain dalam bentuk proselitasi (mempengaruhi orang yang sudah memeluk Agama tertentu beralih ke Agama lain).

Selain itu azas kebersamaan sangat bermanfaat bagi umat sedharma untuk bergotong royong menegakkan dharma dan dalam pendakian spiritual individu, misalnya dalam memerangi sadripu (enam jenis musuh manusia yang ada pada diri masing-masing), yaitu:

  1. Kama (nafsu yang tak terkendali)
  2. Lobha (rakus)
  3. Kroda (kemarahan)
  4. Mada (kemabukan)
  5. Moha (angkuh)
  6. Matsarya (cemburu, dengki dan iri hati)

Slogan “sagilik-saguluk sabayantaka” hendaknya tidak dipandang secara sempit sebagai menghadapi musuh ekstern, tetapi lebih ditujukan kepada memerangi sadripu ini. Mereka yang berhasil mengendalikan sadripu disebut orang yang “dama” artinya bijaksana.

Kebijaksanaan adalah hal yang penting dalam menempuh kehidupan, karena kebijaksanaan dalam arti luas hakekatnya adalah kemampuan memilah dan menyadari unsur-unsur dharma dan adharma.

Kebersamaan dalam bentuk paguyuban berguna sebagai wadah demokrasi karena konsep “paras-paros sarpanaya” dijalankan. Ini akan membentuk tatanan kehidupan yang moderat di mana terjadi brainstorming dalam memutuskan sesuatu demi kepentingan bersama.

Sejarah dunia telah membuktikan bahwa perjuangan dalam bentuk apapun hanya akan berhasil jika dilakukan dengan kesadaran kebersamaan yang hakiki diantara kelompok pejuang.

Demikian pula hal yang patut dilakukan oleh umat Hindu dewasa ini, jalinan kebersamaan hendaknya makin diperluas mencapai tahap nasional dan internasional agar dapat memberikan manfaat yang tinggi bagi kemajuan umat Hindu.

DI SUNTING DARI PENCERAHAN BHAGAWAN DWIJA

Kompas ” RACUN LEBAH BISA MEMBUNUH VIRUS HIV”

Ilmuwan dari Washington University di St. Louis membuktikan bahwa racun lebah mampu menghancurkan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penelitian ini membuka peluang dan harapan baru pencegahan sekaligus penyembiuhan HIV/AIDS.

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Antiviral Therapy. Penelitian menguraikan betapa penggunaan racun lebah bernama melittin dan partikel nano sebagai pembawa ke dalam darah mampu membunuh virus yang jadi musuh besar manusia ini.

“Kami menyerang berdasarkan karakter fisik virus HIV. Secara teoretis, tak ada cara bagi virus untuk beradaptasi. Virus harus memiliki lapisan pelindung, dua membran yang melindungi virus,” papar Joshua L. Hood, ilmuwan yang terlibat riset ini.

Melittin memiliki cara kerja khusus dalam menyerang HIV. “Melittin pada partikel nano berfusi dengan lapisan luar virus. Melittin membentuk pori kecil, menghacurkan lapisan pelindung dan menelanjangi virus,” kata Hood seperti dikutip Spectrum IEEE, Rabu (6/3/2013).

Melittin dan partikel nano ini bekerja spesifik pada HIV. Jadi, tidak merugikan sel tubuh manusia sendiri. Hood melengkapi partikel nano dengan “protective bumpers”, ruang pada permukaan partikel nano. Sel manusia takkan pas dengan protective bumpers ini.

Dengan penggunaan racun lebah dan partikel nano, HIV bisa dihilangkan dari tubuh manusia. Ini berbeda dengan perawatan anti retroviral yang hanya mencegah reproduksi HIV. Dengan kata lain, racun lebah dan partikel nano membuat orang denagn HIV/AIDS bisa sembuh.

Ke depan, racun lebah diharapkan bisa digunakan sebagai salah satu komposisi gel vagina untuk mencegah infeksi HIV. Racun lebah juga bisa disuntikkan lewat pembuluh darah balik manusia, membuat orang dengan HIV/AIDS bisa sembuh total.

Sumber :

 

BABAD RAJA TABANAN

Babad Arya Tabanan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa (salinan sepenuhnya untuk mempermudah dan menyampaiakn kepada pratisentana sami )

Langsung ke: navigasi, cari

Babad Arya Tabanan adalah babad yang dapat diketemukan di tulisan-tulisan lontar kuno yang dimiliki beberapa Puri (Keraton) di Tabanan, Bali, Indonesia.

Babad ini menceritakan awal ekspedisi Majapahit ke Bali yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dan Arya Damar (Adityawarman). Dalam babad ini disebutkan ada kesatria keturunan Kediri yang bersaudara :

  • Raden Cakradara (suami Tribhuwana)
  • Arya Damar (Adityawarman). Nama Arya Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan di Palembang yang membantu Majapahit menaklukkan Bali pada tahun 1343. Dikisahkan, Arya Damar memimpin 15.000 prajurit menyerang Bali dari arah utara, sedangkan Gajah Mada menyerang dari selatan dengan jumlah prajurit yang sama. Pasukan Arya Damar berhasil menaklukkan Ularan yang terletak di pantai utara Bali. Pemimpin Ularan yang bernama Pasung Giri akhirnya menyerah setelah bertempur selama dua hari. Arya Damar yang kehilangan banyak prajurit melampiaskan kemarahannya dengan cara membunuh Pasung Giri. Arya Damar kembali ke Majapahit untuk melaporkan kemenangan di Ularan. Pemerintah pusat yang saat itu dipimpin Tribhuwana Tunggadewi marah atas kelancangannya, yaitu membunuh musuh yang sudah menyerah. Arya Damar pun dikirim kembali ke medan perang untuk menebus kesalahannya. Arya Damar tiba di Bali bergabung dengan Gajah Mada yang bersiap menyerang Tawing. Sempat terjadi kesalahpahaman di mana Arya Damar menyerbu lebih dulu sebelum datangnya perintah. Namun keduanya akhirnya berdamai sehingga pertahanan terakhir Bali pun dapat dihancurkan. Seluruh Pulau Bali akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Majapahit setelah pertempuran panjang selama tujuh bulan. Pemerintahan Bali kemudian dipegang oleh adik-adik Arya Damar, yaitu Arya Kenceng, Arya Kutawandira, Arya Sentong, dan Arya Belog. Sementara itu, Arya Damar sendiri kembali ke daerah kekuasaannya di Palembang. Arya Kenceng memimpin saudara-saudaranya sebagai penguasa Bali bawahan Majapahit. Ia dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.( Sumber : http://id.rodovid.org/wk/Orang:331778 )

Masing-masing ksatria ini memimpin pasukannya menyerang dari segala penjuru mata angin. Diceritakan setelah Bali berhasil ditaklukan, Arya Damar kembali ke Majapahit, kemudian diangkat sebagai Raja di Palembang. Adik-adik beliau ditempatkan sebagai raja di masing-masing daerah di Bali seperti Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-kaba dan sebagainya. Salah satu keturunan dari Raja Tabanan, kemudian mendirikan kerajaan Badung ( Denpasar ) yang terkenal dengan Perang Puputan Badung melawan kolonial Belanda. Babad ini juga menceritakan kejadian-kejadian penting dan suksesi Raja-Raja Tabanan.

Daftar isi[sembunyikan]

  • 1 Berikut Silsilah Raja-Raja Tabanan
  • 2 I. Arya Kenceng, Raja Tabanan I
  • 3 II. Shri Magada Natha / Arya Yasan, Raja Tabanan II
  • 4 III. Arya Ngurah Langwang / Arya Ngurah Tabanan/ Arya Nangun Graha, Raja III
  • 5 IV. Sang Nateng Singasana / Ki Gusti Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan / Ida Bhatara Makules, Raja IV & VII
  • 6 V. Ki Gusti Wayahan Pamedekan, Raja V
  • 7 VI. Ki Gusti Made Pamedekan, Raja VI
  • 8 VII. Sang Nateng Singasana, Raja VII
  • 9 VIII. Arya Ngurah Tabanan / Bhatara Nisweng Panida, Raja VIII
  • 10 IX. Ki Gusti Nengah Mal Kangin Dan Ki Gusti Made Dalang Raja IX
  • 11 X. Ki Gusti Bola, Raja X
  • 12 XI. Ki Gusti Alit Dawuh / Shri Magada Sakti, Raja XI
  • 13 XII. Putra Sulung Sri Megada Sakti / Ratu Lepas Pemade / Ida Cokorda Tabanan, Raja XII
  • 14 XIII. Ida Cokorda Sekar / Ki Gusti Ngurah Sekar, Raja XIII
  • 15 XIV. Ida Cokorda Gede, Raja XIV
  • 16 XV. Ida Cokorda Made Rai, Raja XV
  • 17 XVI. Kiyayi Buruan, Raja XVI
  • 18 XVII. Ki Gusti Ngurah Rai/ Cokorda Penebel
  • 19 XVIII. Ki Gusti Ngurah Ubung, Raja XVIII
  • 20 XIX. Ki Gusti Ngurah Agung, Raja XIX
  • 21 XX. Sirarya Ngurah Agung Tabanan ( Bhatara Ngaluhur ), Raja XX, Tahun 1868 s/d 1903
  • 22 XXI. I Gusti Ngurah Rai Perang, abhiseka I Gusti Ngurah Agung. Raja XXI, Tahun 1903 – 1906
  • 23 XXII. Cokorda Ngurah Ketut, Raja Tabanan ke XXII (29 Juli 1938 s/d …)
  • 24 XXIII. Cokorda Ngurah Gede, Raja Tabanan ke XXIII
  • 25 XXIV. Cokorda Anglurah Tabanan Raja Tabanan ke XXIV
  • 26
  • 27 Info Dan Komentar
  • 28 Sumber

[sunting] Berikut Silsilah Raja-Raja Tabanan

Singasari & Majapahit ) beristrikan Dara Jingga ( Sira Alaki Dewa / beliau yang bersuami seorang Dewa ), berputra :

  • Raden Cakradara (suami Tribhuwana Tungga Dewi)
  • Arya Damar / Adityawarman Raja Palembang
  • Arya Kenceng
  • Arya Kuta Wandira
  • Arya Sentong
  • Arya Belog

[sunting] I. Arya Kenceng, Raja Tabanan I

Kerajaan di Pucangan / Buahan Tabanan, berputra :

1. Shri Megada Parabhu / Dewa Raka ( Tidak berminat dengan keduniawian, membangun pesraman di Kubon Tingguh ), Beliau mengangkat 5 orang anak asuh ( Putra Upon-Upon ) :

  • 1. Ki Bendesa Beng
  • 2. Ki Guliang di Rejasa
  • 3. Ki Telabah di Tuakilang
  • 4. Ki Bendesa di Tajen
  • 5. Ki Tegehen di Buahan

2. Shri Megada Natha / Dewa Made / Arya Yasan
3. Kiyai Tegeh ( Arya Kenceng Tegeh Kori bukan Kuri ). Merupakan Putra kandung dari Arya Kenceng yang beribu dari desa Tegeh di Tabanan( bukan putra Dalem yang diberikan kepada Arya Kenceng, menurut babad versi Benculuk Tegeh Kori / http://bali.stitidharma.org/babad-arya-tegeh-kuri/ ), Beliau membangun Kerajaan di Badung, diselatan kuburan Badung ( Tegal ) dengan nama Puri Tegeh Kori ( sekarang bernama Gria Jro Agung Tegal ), karena ada konflik di intern keluarga maka beliau meninggalkan puri di Tegal dan pindah ke Kapal. Di Kapal sempat membuat mrajan dengan nama “Mrajan Mayun ” yang sama dengan nama mrajan sewaktu di Tegal, dan odalannya sama yaitu pada saat “Pagerwesi”. Dari sana para putra berpencar mencari tempat. Kini pretisentananya ( keturunannya ) berada di Puri Agung Tegal Tamu, Batubulan, Gianyar dan Jero Gelgel di Mengwitani( Badung), Jro Tegeh di Malkangin Tabanan. Dan dalam babad perjalanan Kiyai Tegeh ( Arya Kenceng Tegeh Kori ) tidak pernah membuat istana di Benculuk atau sekarang di sebut Tonja apalagi sampai membangun mrajan Kawitan di tonja. Di Puri Tegeh Kori beliau berkuasa sampai generasi ke empat.

Adapun putra -putra dari Arya Kenceng Tegeh Kori IV adalah :

  • 1. Kyai Anglurah Putu Agung Tegeh Kori ( setelah dari Kapal kemudian membangun puri di Tegal Tamu, Gianyar, dengan nama Puri Agung Tegal Tamu( Tamu dari Tegal ). Beliau berputra :
    • 1. I Gusti Putu GelGel. Magenah ring ( bertempat tinggal di ) : Jro Gelgel di Mengwitani Badung, Yeh Mengecir Jembrana dan Jro Tegeh di Malkangin Tabanan
    • 2. I Gusti Putu Mayun. Magenah ring Jro Batu Belig ,Batubelig dan Cemagi
    • 3. I Gusti Ketut Mas. Magenah ring Klusa
    • 4. Kyai Anglurah Made Tegeh. Magenah ring Perang Alas( Lukluk Badung), Pacung ( Abian semal ) dan Dencarik ( Buleleng )
    • 5. I Gusti Nyoman Mas. Magenah ring Kutri
    • 6. I Gusti Putu Sulang. Magenah ring Sulang
    • 7. I Gusti Made Tegeh. Magenah ring Mambal, Sibang, Karang Dalem
    • 8. I Gusti Mesataan. Magenah ring Sidemen
    • 9. I Gusti Putu Tegeh. Magenah ring Lambing, Klan, Tuban
    • 10. I Gusti Ketut Maguyangan. Magenah ring Desa Banyu Campah
    • 11. I Gusti Gede Tegeh. Magenah ring Plasa ( Kuta )
    • 12. I Gusti Abyan Timbul. Magenah ring Abian Timbul
    • 13. I Gusti Putu Sumerta. Magenah ring Sumerta
  • 2. Kyai Anglurah Made Tegeh
  • 3. Kyai Ayu Mimba / Kyai Ayu Tegeh ( Beliau yang menikah Ke Kawya Pura /Puri Mengwi )

4. Nyai Luh Tegeh

[sunting] II. Shri Magada Natha / Arya Yasan, Raja Tabanan II

Beliau diutus oleh Dalem ( Raja Bali ) ke Majapahit untuk menyelidiki terhentinya komunikasi dengan Dalem. Setelah sampai di Majapahit, beliau sangat terkejut, menyaksikan keadaan kerajaan yang kacau balau, karena pengaruh Agama Islam mulai masuk. Beliau kembali ke Pucangan ( Bali ), setelah sampai di Pucangan, beliau sangat kecewa, karena adik perempuannya yang bernama Nyai Luh Tegeh Kori dikawinkan dengan Kiayi Asak dari Kapal oleh Dalem, tanpa sepengetahuan dan persetujuan beliau. Karena sangat kecewa beliau meletakan jabatan dan sebagai raja diserahkan pada putranya Sirarya Ngurah Langwang. Selanjutnya beliau menjalani kehidupan rohani di Kubon Tingguh dan kawin lagi dengan putri dari Ki Bendesa Pucangan, yang kemudian melahirkan putra laki-laki yang bernama Ki Gusti Ketut Pucangan atau Sirarya Notor Wandira, yang mana selanjutnya Sirarya Notor Wandira menjadi Raja Badung dan menurunkan pratisentana ( keturunan ) Arya Kenceng di Badung.

Sri Megada Nata mempunyai putera :

1. Arya Ngurah Langwang

2. Ki Gusti Made Utara ( menurunkan Keluarga Besar Jero Subamya )

3. Ki Gusti Nyoman Pascima (Menurunkan Keluarga Besar Jero Pameregan)

4. Ki Gusti Ketut Wetaning Pangkung ( Menurunkan Pragusti Lod Rurung, Kesimpar & Srampingan )

5. Ki Gusti Samping Boni ( Menurunkan Pragusti Ersania, Kyayi Nengah & Kyayi Titih )

6. Ki Gusti Nyoman Batan Ancak ( Menurunkan Pragusti Ancak & Angligan )

7. Ki Gusti Ketut Lebah

8. Ki Gusti Ketut Bendesa / Sirarya Ketut Pucangan/ Sirarya Notor Wandira ( Selanjutnya menurunkan Raja-Raja dan Pratisentana Arya Kenceng di Badung / Denpasar ).

Diceritakan Kyahi Ketut Bendesa atau Kyahi Wuruju Pucangan setiap malam beliau tidak tidur dirumah, melainkan dirumah-rumah penduduk. Pada suatu malam seorang penduduk melihat api dan setelah didekati ternyata hilang, dan yang terlihat ternyata Si Arya Ketut Pucangan. Orang mengetahui bahwa Si Arya Ketut sangat sakti. Beliau disuruh memotong pohon beringin yang tumbuh diwilayah Kerajaan dan beliau naik sampai kepuncak dan memotong pohon itu sampai bersih. Beliau dengan enaknya duduk diatas puncak, lalu diperintahkan untuk turun oleh Raja. Setelah peristiwa itu lalu diberi nama Sang Arya Ketut Notor Wandira, dan Raja memberinya sebuah keris yang yang bernama I Ceklet. Setelah dewasa Arya Notor Wandira mengambil istri dari desa Buwahan dan berputra 2 orang yaitu :

  • 1. Kyahi Gde Raka
  • 2. Kyahi Gde Rai

Setelah Arya Notor Wandira mempunyai 2 orang putra, beliau ingin mendapatkan kesucian dan wibawa, lalu pergi ke Gunung Giri di Beratan yang bernama Watukaru. Setelah berapa waktu lalu mendapat wangsit yang memerintahkan agar pergi ke Gunung Batur meminta berkah kepada Batari Danu. Sambil menunggu hari baik, beliau berjalan-jalan sampai di desa Tambyak dan tiba-tiba bertemu dengan seorang anak kecil hitam kulitnya, gigi putih, muncul dari pecahan batu di Pura Tambyak, kemudian diajak pulang dan diberi nama Ki Tambyak Tudelaga. Tudelaga adalah namanya yang pertama. Setelah hari baik, Sang Arya disertai oleh Ki Tambyak pergi menuju Selagiri. Kepergiannya nyasar sampai ke Pura Panrajon. Disana beliau semadi memuja Dewa, dan muncullah Sanghyang Panrajon dan berkata agar melanjutkan perjalanan ke Batur. Setelah membatalkan semadinya disertai oleh Ki Tambyak berangkatlah beliau ke Selagiri dan segera melakukan yoga semadi tanpa cacat. Kemudian muncullah Bhetari Danu dan bersabda bahwa Bhetari akan memenuhi kehendaknya asal mau menjunjungnya melintasi danau dan Sang Arya tidak menoleh dan dengan hati teguh memenuhi perintahnya. Ditengah Danau Bhetari menyampaikan sesuatu dan berkata bahwa engkau akan mendapatkan kebahagiaan dalam pemerintahan, dan engkau hendaknya pergi ke negara Badung menemui Sang Anglurah Tegeh Kori. Setelah itu beliau pulang ke Buwahan. Setelah berapa lama beliau lalu pergi kedaerah Badung diikuti oleh istrinya dan Ki Tambyak dan bermalam dirumah Buyut Lumintang. Besoknya melanjutkan perjalanan disertai oleh Ki Buyut kedaerah Tegal dan masuk ke Istana Kyahi Anglurah Tegeh Kori dan mengadakan pembicaraan.( http://www.facebook.com/note.php?note_id=441009182858 ).

[sunting] III. Arya Ngurah Langwang / Arya Ngurah Tabanan/ Arya Nangun Graha, Raja III

Beliau menggantikan Ayahnya ( Sri Megada Nata ) menjadi Raja Tabanan, yang kemudian mendapat perintah Dalem agar memindahkan Purinya ( Kerajaannya ) di Pucangan ke daerah selatan, hal ini kemungkinan disebabkan secara geografis dan demografis sulit dicapai oleh Dalem dari Gegel dalam kegiatan inspeksi. Akhirnya Arya Ngurah Langwang mendapat pewisik, …dimana ada asap mengepul, agar disanalah membangun Puri. Setelah melakukan pengamatan dari Kebon Tingguh terlihat di daerah selatan asap mengepul keatas, kemudian beliau menuju ke tempat asap mengepul tersebut, ternyata keluar dari sebuah sumur yang terletak di dalam areal Pedukuhan yaiti Dukuh Sakti, yang sekarang lokasi sumur tersebut berada di dalam Pura Puser Tasik Tabanan. Kemudian disitulah beliau membangun Puri, setelah selesai dipindahlah Puri / Kerajaannya beserta Pura Batur Kawitan Betara Arya Kenceng ( lihat denah ).

Puri Agung Tabanan 1906

Oleh karena asap terus mengepul dari sumur tersebut seperti tabunan, sehingga puri beliau diberi nama Puri Agung Tabunan, yang kemudian pengucapannya berubah menjadi http://id.wikipedia.org/wiki/Puri_Agung_Tabanan”>Puri Agung Tabanan, sedangkan kerajaannya disebut Puri Singasana dan beliau disebut Sang Nateng Singasana. Dari saat itulah beliau bergelar Sirarya Ngurah Tabanan atau juga Ida Betara Nangun Graha. Disebelah Timur Puri, dibangun pesanggrahan khusus untuk Dalem, apabila melakukan inspeksi ke Tabanan dan disebut Puri Dalem. Pada saat itu juga, Dalem memberikan seorang Bagawanta Brahmana Keniten dari Kamasan, yang kemudian ditempatkan di Pasekan ( Griya Pasekan sekarang ).

Denah Puri Agung Tabanan 1900

Pada waktu beliau pindah dari Pucangan ke Tabanan diiringi oleh saudara-saudaranya yaitu :

  • 1. Ki Gusti Made Utara
  • 2. Ki Gusti Nyoman Pascima dan
  • 3. Ki Gusti Wetaning Pangkung.

Sedangkan saudaranya tiga orang lagi yaitu :

  • 1. Ki Gusti Nengah Samping Boni
  • 2. Ki Gusti Nyoman Batan Ancak dan
  • 3. Ki Gusti Ketut Lebah

disuruh pindah ke Desa Nambangan Badung, sebagai pendamping Ki Gusti Ketut Pucangan / Sirarya Notor Wandira yang telah menetap di Bandana ( Badung ). Selanjutnya cucu dari Ki Gusti Samping Boni bernama Ki Gusti Putu Samping, besrta adik-adiknya yaitu : Kiayi Titih, Kiayi Ersani, Kiayi Nengah dan Kiayi Den Ayung mereka kembali ke Tabanan, karena tidak memproleh kedudukan di Badung, diperkirakan sebagai pengiring I Gusti Ayu Pemedetan ( putrid dari Sirarya Notor Wandira ).

Arya Ngurah Langwang berputra :

  • 1. Ki Gusti Ngurah Tabanan / Sang Nateng Singasana
  • 2. Ki Gusti Lod Carik (menurunkan Para Gusti Lod Carik)
  • 3. Ki Gusti Dangin Pasar ( Menurunkan Pragusti Suna, Munang, Batur )
  • 4. Ki Gusti Dangin Margi ( Menurunkan Ki Gusti Blambangan, Ki Gusti Jong, Ki Gusti Mangrawos di Kesiut Kawan, Gusti Mangpagla di Timpag. Semuanya itu disebut Gusti Dangin )

[sunting] IV. Sang Nateng Singasana / Ki Gusti Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan / Ida Bhatara Makules, Raja IV & VII

Pura Batur Wanasari di Wanasari Tabanan

Stana / Pelinggih Beliau berada di Pura Batur Wanasari di Wanasari Tabanan. Hari Piodalannya / Petoyannya pada Anggarkasih Dukut ( Selasa Kliwon Dukut ). Beliau berputra :

  • 1. Ki Gusti Wayahan Pamedekan
  • 2 Ki Gusti Made Pamedekan
  • 3. Ki Gusti Kukuh
  • 4. Ki Gusti Bola
  • 5. Ki Gusti Wangaya
  • 6. Ki Gusti Made
  • 7. Ki Gusti Kajanan
  • 8. Ki Gusti Brengos
  • 9. Ni Gusti Luh Kukuh
  • 10. Ni Gusti Luh Kukub
  • 11. Ni Gusti Luh Tanjung
  • 12. Ni Gusti Luh Tangkas
  • 13. Ni Gusti Luh Ketut

[sunting] V. Ki Gusti Wayahan Pamedekan, Raja V

berputra :

  • 1. Ki Gusti Nengah Malkangin
  • 2 & 3. 2 ( Dua ) Wanita tidak disebutkan namanya
  • 4. Raden Tumenggung ( Putra yang lahir di Mataram, setelah K G W Pamedekan ditangkap dalam perang dengan Mataram, dan diangkat sebagai mantu oleh Raja Mataram)

[sunting] VI. Ki Gusti Made Pamedekan, Raja VI

Oleh kakaknya ( Ki Gusti Wayahan Pamedekan ) disuruh kembali ke Bali untuk menggantikannya sebagai raja. Berputra :

  • 1. Arya Ngurah Tabanan
  • 2. Kyayi Made Dalang
  • 3. Ni Gusti Luh Tabanan

[sunting] VII. Sang Nateng Singasana, Raja VII

( Kembali naik tahta karena Ki Gusti Made Pamedekan wafat dan putra mahkota masih belum dewasa ).

[sunting] VIII. Arya Ngurah Tabanan / Bhatara Nisweng Panida, Raja VIII

Berputra :

  • 1. Ni Gusti Luh Kepaon
  • 2. Ni Gusti Ayu Rai
  • 3. Ki Gusti Alit Dawuh

[sunting] IX. Ki Gusti Nengah Mal Kangin Dan Ki Gusti Made Dalang Raja IX

Ki Gusti Made Dalang ( putra Ki Gusti Made Pamedekan ) berkedudukan di Puri Agung Tabanan sebagai Raja Singasana dengan wilayah kekuasaannya di Sebelah Barat Sungai Dikis.

Ki Gusti Nengah Malkangin ( putra Ki Gusti Wayahan Pamedekan ) berkedudukan di Puri Malkangin dengan wilayah kekuasaan di Sebelah Timur Sungai Dikis.

Ki Gusti Made Dalang meninggal tanpa keturunan, sehingga seluruh wilayah Tabanan dapat dipersatukan oleh Ki Gusti Nengah Malkangin menjadi kekuasaannya. Ki Gusti Nengah Malkangin setelah menjadi Raja Singasana, beliau selalu ingin membinasakan putra mahkota yang bernama Ki Gusti Alit Dawuh ( putra Sirarya Ngurah Tabanan / Betara Nisweng Penida ). Dengan bantuan Ki Gusti Agung Badeng penguasa Kapal yang beristrikan Ni Gusti Luh Tabanan putra dari Ki Gusti Made Pamedekan, saudara perempuan Sirarya Ngurah Tabanan ( Betara Nisweng Pedida ). Putra Mahkota Ki Gusti Alit Dawuh menyerang Ki Gusti Nengah Malkangin dan dalam pertempuran ini Ki Gusti Nengah Malkangin beserta seluruh keluarganya dibunuh oleh Ki Gusti Agung Badeng, hanya seorang putranya yang bernama Ki Gusti Perot tidak dibunuh karena cacad / perot, selanjutnya menurunkan para Gusti Kamasan. Oleh karena Putra Mahkota Ki Gusti Alit Dawuh masih sangat muda dipandang belum mampu memegang pemerintahan, sehingga Ki Gusti Agung Badeng berkenan bermukim sementara di Puri Malkangin untuk mengasuh / mempersiapkan putra mahkota menjadi raja. Sementara diangkatlah Ki Gusti Bola sebagai Raja Singasana.

[sunting] X. Ki Gusti Bola, Raja X

Berkedudukan di Mal Kangin. Setelah Ki Gusti Bola ( putra dari Ki Gusti Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan ) menduduki tahta Singasana, beliau tetap bersikap tidak adil dan menyimpan rasa dendam pada putra mahkota Ki Gusti Alit Dawuh, yang pada akhirnya setelah Ki Gusti Alit Dawuh sudah dianggap dewasa untuk memegang pemerintahan, atas nasehat Ki Gusti Agung Badeng disarankan untuk merebut kekuasaan Ki Gusti Bola. Dalam peperangan Ki Gusti Alit Dawuh dapat mengalahkan Ki Gusti Bola, dimana Ki Gusti Bola tewas ditombak dengan tombak pusaka yang bernama Ki Sandang Lawe.

[sunting] XI. Ki Gusti Alit Dawuh / Shri Magada Sakti, Raja XI

mempunyai putra :

  • 1. Putra Sulung ( tidak disebutkan namanya )
  • 2. Ki Gusti Made Dawuh / Ida Cokorda Dawuh Pala
  • 2. Ki Gusti Nyoman Telabah
  • 3. Kyayi Jegu
  • 4. Kyayi Kerasan
  • 5. Kyayi Oka

Pada waktu pemerintahan Ki Gusti Alit Dawuh ( Sri Megada Sakti ), di Bandana / Badung, keturunan dari Ki Gusti Nyoman Batan Ancak yang bernama Ki Gusti Nyoman Kelod Kawuh tidak memproleh kedudukan di Badung, mereka kembali lagi ke Tabanan, kemudian oleh Raja Sri Megada Sakti dititahkan bermukim di Desa Pandak sebagai penguasa daerah pantai batas kerajaan.

[sunting] XII. Putra Sulung Sri Megada Sakti / Ratu Lepas Pemade / Ida Cokorda Tabanan, Raja XII

berputra :

  • 1. Ki Gusti Ngurah Sekar
  • 2. Ki Gusti Ngurah Gede Banjar ( Menjadi Angrurah di Kerambitan, menurunkan Puri-Puri / Jero-Jero dan Pratisentana Arya Kenceng di Kerambitan )
  • 3. Ki Gusti Ngurah Made Dawuh ( Cokorda Dawuh Pala )
  • 4. Ki Gusti Sari ( Bermukim di Wanasari )
  • 5. Ki Gusti Pandak ( Bermukim di Pandak )
  • 6. Ki Gusti Pucangan ( Bermukim di Buwahan )
  • 7. Ki Gusti Rejasa ( bermukin di Rejasa )
  • 8. Ki Gusti Bongan ( Bermukim di Bongan Kawuh )
  • 9. Ki Gusti Sangian ( Bermukim di Banjar Ambengan )
  • 10. Ki Gusti Den ( Bermukim di Banjar Ambengan )

[sunting] XIII. Ida Cokorda Sekar / Ki Gusti Ngurah Sekar, Raja XIII

Berputra :

  • 1. Ki Gusti Ngurah Gede
  • 2. Ki Gusti Ngurah Made Rai ( Membangun Puri Kaleran, Kembali masuk Puri Agung setelah Raja XIV Wafat )
  • 3. Ki Gusti Ngurah Rai (Membangun puri di Penebel, Menurunkan Ki Gusti Ngurah Ubung & Jero Kerambitan / Kekeran di Kerambitan ). Keturunan Ki Gusti Ngurah Ubung musnah di bunuh dalam perang dengan Ki Gusti Ngurah Agung.
  • 4. Ki Gusti Ngurah Anom ( Membangun Puri Mas di sebelah Utara Puri Singasana, seluruh keturunannya musnah di bunuh oleh Ki Gusti Ngurah Rai Penebel )

[sunting] XIV. Ida Cokorda Gede, Raja XIV

berputra :

  • 1. Ki Gusti Nengah Timpag
  • 2. KI Gusti Sambyahan
  • 3. Ki Gusti Ketut Celuk

[sunting] XV. Ida Cokorda Made Rai, Raja XV

berputra :

  • 1. Ki Gusti Ngurah Agung Gede (Seda sebelum Mabiseka Ratu)
  • 2. Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji (Seda Sebelum Mebiseka Ratu), berputra :
    • 1. Ki Gusti Ngurah Agung
    • 2. Ki Gusti Ngurah Demung
    • 3. Ki Gusti Ngurah Celuk (Membangun Puri Kediri Tabanan)
  • 3. Kyayi Buruan
  • 4. Kyayi Tegeh
  • 5. Kyayi Beng (Menurunkan Jero Gede Beng, Jero Beng Kawan & Jero Putu)
  • 6. Kyayi Perean (menurunkan Jero Gede Oka, Jero Gede Kompyang)

[sunting] XVI. Kiyayi Buruan, Raja XVI

Putra dari Ki Gusti Ngurah Made Rai. Dalam pemerintahannya yang didampingi oleh Kiyayi Beng selalu memendam iri hati dan kekwatiran akan kebesaran dan pengaruh Cokorda Rai Penebel beserta putranya Ki Gusti Ngurah Ubung di Penebel, akhirnya Kiyayi Buruan Menyerang Cokorda Rai di Penebel, akan tetapi Kiyayi Buruan dan Kiyayi Beng beserta laskarnya dikalahkan oleh laskar Penebel. Kiyayi Buruan dan Kiyayi Beng bertahan diistananya di Tabanan, akhirnya pasukan Penebel dibawah pimpinan Ki Gusti Ngurah Ubung menyerang Tabanan dan Kiyayi Buruan dan Kiyayi Beng terbunuh beserta seluruh keluarganya. Sedangkan Kiyayi Beng mempunyai istri yang sedang mengandung dan kebetulan berada dirumah orang tuanya di desa Suda akhirnya melahirkan anak laki-laki yang bernama I Gusti Wayahan Beng yang selanjutnya menurunkan Jero Beng, Jero Beng Kawan dan Jero Putu di Tabanan.

[sunting] XVII. Ki Gusti Ngurah Rai/ Cokorda Penebel

[sunting] XVIII. Ki Gusti Ngurah Ubung, Raja XVIII

Beliau adalah putra Ki Gusti Ngurah Rai / Cokorda Penebel. Ki Gusti Ngurah Ubung sebagai raja Singasana berkedudukan di Puri Agung Tabanan, setelah kalah dalam pertempuran di pesiatan ( Pesiapan ) dengan laskar Ki Gusti Ngurah Agung ( putra Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji ), kemudian Ki Gusti Ngurah Ubung lari dan bertahan di Puri Penebel dan akhirnya Ki Gusti Ngurah Agung Masuk ke Puri Agung Tabanan sebagai Raja Tabanan. Setelah beberapa tahun berperang, akhirnya raja Ki Gusti Ngurah Agung dibantu oleh raja Mengwi menyerang Ki Gusti Ngurah Ubung di Penebel dan Ki Gusti Ngurah Ubung tewas dalam peperangan di Desa Sesandan.

[sunting] XIX. Ki Gusti Ngurah Agung, Raja XIX

Beliau adalah putra Ki Gst Ngr Panji. Berputra :

  • 1. Sirarya Ngurah Agung
  • 2. Ki Gusti Ngurah Gede Banjar ( Membangun Puri Anom, menetap di Saren Kangin )
  • 3. Ki Gusti Ngurah Nyoman ( Membangun Puri Anom, menetap di Saren Kawuh / Saren Tengah sekarang )
  • 4. Ki Gusti Ngurah Rai ( Diangkat sebagai Putra oleh Ki Gusti Ngurah Demung di Puri Kaleran )
  • 5. Sirarya Ngurah ( Diangkat sbg Putra oleh Ki Gusti Ngurah Demung di Puri Kaleran )
  • 6. Ki Gusti Ngurah Made Penarukan ( Membangun Puri Anyar Tabanan )

[sunting] XX. Sirarya Ngurah Agung Tabanan ( Bhatara Ngaluhur ), Raja XX, Tahun 1868 s/d 1903

Berputra :

  • 1. Sirarya Ngurah Agung ( Seda sebelum Mabiseka Ratu )
  • 2. Ki Gusti Ngurah Gede Mas ( Seda sebelum Mabiseka Ratu )
  • 3. Ki Gusti Ngurah Alit Senapahan ( Seda sebelum Mabiseka Ratu )
  • 4. Ki Gusti Ngurah Rai Perang ( Membangun Puri Dangin )
  • 5. Ki Gusti Ngurah Made Batan ( Puri Dangin )
  • 6. Ki Gusti Ngurah Nyoman Pangkung ( Puri Dangin )
  • 7. Ki Gusti Ngurah Gede Marga (Membangun Puri Denpasar
  • 8. Ki Gusti Ngurah Putu ( Membangun Puri Mecutan Tabanan ), berputra :
    • 1. I Gusti Ngurah Wayan
    • 2. I Gusti Ngurah Made
    • 3. I Gusti Ngurah Ketut
    • 4. Sagung Nyoman
    • 5. Sagung Rai
    • 6. Sagung Ketut
  • 9. Sagung Wah ( terkenal memimpin Bebalikan Wangaya, perang melawan Belanda )

[sunting] XXI. I Gusti Ngurah Rai Perang, abhiseka I Gusti Ngurah Agung. Raja XXI, Tahun 1903 – 1906

Beliau dari Puri Dangin Tabanan, kembali masuk ke Puri Singasana setelah semua Putra mahkota wafat, merupakan Raja Tabanan ke XXI dari tahun 1903 s/d 1906, Ida Cokorda Rai Perang tewas muput raga (menusuk diri sendiri) di Denpasar pada tahun 1906 karena tidak mau tunduk kepada Belanda, Putra mahkota Raja Tabanan Ki Gusti Ngurah Gede Pegeg, juga ikut mengakhiri dirinya bersama ayah beliau. Sehingga hanya tersisa 2 dua orang Putri Raja dari permaisuri yakni Sagung Ayu Oka dan Sagung Ayu Putu, yang kemudian keduanya pindah dan menetap di Puri Anom Tabanan, karena Puri Agung Singasana Tabanan dibakar habis oleh Belanda. Sagung Ayu Oka kemudian menikah dengan Cramer seorang Klerk Kontrolir Belanda, dan Sagung Ayu Putu menikah dengan Ki Gusti Ngurah Anom, di Puri Anom Tabanan.

  • Putra Putri Beliau dari permaisuri yang ikut masuk ke Puri Agung :
    • 1. Ki Gusti Ngurah Gede Pegeg (Turut Muput Raga di Badung th 1906) tidak berketurunan
    • 2. Sagung Ayu Putu (Pindah ke Puri Anom ) menikah dgn Ki Gusti Ngurah Anom di Puri Anom Tabanan. Menurunkan keturunan di Puri Anom Saren Taman atau sekarang disebut Puri Anom Saren kauh. Sagung Ayu Putu menikah dengan I Gusti Ngurah Anom mempunyai 3 orang keturunan,
      • 1. Sagung Gede (alm,tidak menikah)
      • 2. Sagung Wah (alm,tidak menikah)
      • 3. I Gst Ngr Gede Subagja (alm,menikah dengan Sagung Putra) melahirkan
        • 1. I Gusti Ngurah Agung
        • 2. I Gusti Ngurah Bagus Danendra
        • 3. A A Sagung Mirah Widyawati(menikah dengan I Gst Ngr Bagus Grya Negara)
    • 3. Sagung Ayu Oka (Menikah dengan Mr.Arthur Mauritz Cramer, Klerk kontrolir Belanda)dan memiliki 4 orang anak:
      • 1. Elizabeth(alm-Balanda) memiliki 2 orang anak.
      • 2. Johan Wilhem Cramer(alm-Sukabumi) memiliki 8 orang anak.
      • 3. Jan Cramer(alm-Belanda) memiliki 3 orang anak.
      • 4. Baldi Cramer(alm-Sulawesi Selatan).Keempat anak Sagung Ayu Oka lahir di Jembrana-Bali. Kemudian beserta keluarganya Sagung Ayu Oka pindah ke Sulawesi Selatan. Sagung Ayu Oka meninggal dan dimakamkan di Bantaeng, Sulawesi Selatan dan sampai kini makam beliau dirawat dengan baik oleh pihak gereja.
  • Ida Cokorda Ngurah Rai Perang (Raja Tabanan XXI) juga mempunyai putera dari istri yang lainnya dan tetap tinggal di Puri Dangin Tabanan :
    • 1. I Gusti Ngurah Anom
    • 2. I Gusti Ngurah Putu Konol
    • 3. Ni Sagung Made.

Berpuri di Puri Dangin Tabanan sekarang, yang dibangun lagi, setelah datang dari Lombok, yang mana lokasi purinya tidak dibekas area Puri Dangin Tabanan dulu yang telah dihancurkan Belanda. Yang kemudian selanjutnya menurunkan keluarga-keluarga di Puri Dangin Tabanan dan Puri Dangin Tabanan di Jegu sekarang.

[sunting] XXII. Cokorda Ngurah Ketut, Raja Tabanan ke XXII (29 Juli 1938 s/d …)

Pada jaman penjajahan Belanda, Belanda kemudian membentuk suatu daerah otonomi yang dipimpin oleh seorang self bestur, daerah otonomi ini disesuaikan dengan pembagian kerajaan-kerajaan sebelumnya. Untuk Tabanan dan Badung self bestur diberi gelar Ida Cokorda, Gianyar Ida Anak Agung dan sebagainya…

Dalam rangka memilih Kepala Pemerintahaan di Tabanan, Belanda juga mencari dan menerima saran-saran dari beberapa Puri / Jero yang sebelumnya ada dalam struktur kerajaan, tentang bagaimana tatacara memilih seorang raja di Tabanan sebelumnya. Setelah mempertimbangkannya, pada tanggal 8 Juli 1929, diputuskan sebagai Kepala / Bestuurder Pemerintahan Tabanan dipilih I Gusti Ngurah Ketut, putra I Gusti Ngurah Putu ( putra Sirarya Ngurah Agung Tabanan, Raja Tabanan ke XX ) dari Puri Mecutan, dengan gelar Cokorda.

Pura Batur Kawitan Ida Betara Arya Kenceng di Puri Agung Tabanan

Selanjutnya Beliau membangun kembali puri beserta Pura Batur Kawitan Betara Arya Kenceng ( Piodalan pada hari Wrespati/Kamis Umanis Dungulan ) di area bekas letak Puri Agung Tabanan yang telah dihancurkan Belanda. Karena adanya keterbatasan saat itu, luas area yang digunakan dan jumlah bangunan adat yang didirikan tidak seperti yang semula.

Pada tanggal 1 Juli 1938 Tabanan menjadi Daerah Swapraja, Kepala Daerah Swapraja tetap dijabat oleh I Gusti Ngurah Ketut ( dari Puri Mecutan Tabanan ), kemudian Beliau dilantik / disumpah di Pura Besakih pada Hari Raya Galungan tanggal 29 Juli 1938 dan Mabiseka Ratu bergelar Cokorda Ngurah Ketut, dilihat dari urutan Raja Tabanan, beliau adalah Raja Tabanan ke XXII 1938 s/d 1947.

Berputra :

    • 1. I Gusti Ngurah Gede
    • 2. I Gusti Ngurah Alit Putra
    • 3. I Gusti Ngurah Raka
    • 4. Sagung Mas
    • 5. I Gusti Ngurah Agung

selanjutnya digantikan oleh putra sulungnya bernama I Gusti Ngurah Gede , bergelar Cokorda Ngurah Gede .

[sunting] XXIII. Cokorda Ngurah Gede, Raja Tabanan ke XXIII

(Maret 1947 s/d 1986), berputra :

    • 1. Sagung Putri Sartika
    • 2. I Gusti Ngurah Bagus Hartawan
    • 3. Sagung Putra Sardini
    • 4. I Gusti Ngurah Alit Darmawan
    • 5. Sagung Ayu Ratnamurni
    • 6. Sagung Jegeg Ratnaningsih
    • 7. I Gusti Ngurah Agung Dharmasetiawan
    • 8. Sagung Ratnaningrat
    • 9. I Gusti Ngurah Rupawan
    • 10. I Gusti Ngurah Putra Wartawan
    • 11. I Gusti Ngurah Alit Aryawan
    • 12. Sagung Putri Ratnawati
    • 13. I Gusti Ngurah Bagus Grastawan
    • 14. I Gusti Ngurah Mayun Mulyawan
    • 15. Sagung Rai Mayawati
    • 16. Sagung Anom Mayadwipa
    • 17. Sagung Oka Mayapada
    • 18. I Gusti Ngurah Raka Heryawan
    • 19. I Gusti Ngurah Bagus Rudi Hermawan
    • 20. I Gusti Ngurah Bagus Indrawan
    • 21. Sagung Jegeg Mayadianti
    • 22. I Gusti Ngurah Adi Suartawan.

Selanjutnya digantikan oleh I Gusti Ngurah Rupawan , Mabiseka Ratu 21 Maret 2008 bergelar Cokorda Anglurah Tabanan .

[sunting] XXIV. Cokorda Anglurah Tabanan Raja Tabanan ke XXIV

Dari tanggal 21 Maret 2008

Cokorda Anglurah Tabanan berputera :

  • 1. Sagung Manik Vera Yuliawati
  • 2. I Gusti Ngurah Agung Joni Wirawan
  • 3. Sagung Inten Nismayani

[sunting]

[sunting] Info Dan Komentar

KINI DI MENGWI ADA TERTULIS DI PINGGIR JALAN ARAH KE BUDUGUL ” KAWITAN ARYA KENCENG ,YA ARIYA MEGADA WANGSA,PURI GEDE PUPUAN ” ,SIAPAKAH ARYA MEGADA WANGSA TERSEBUT ? Karna yang umum di ketahui Sri Megada Prabu dan Sri Megada Natha. Apakah Benar disana Anglurah Mengwi I ?

  • Suksma tiang dah baca ,tapi ada baiknya sejarah anda kita satukan atau perbandingkan dengan sejarah puri ageng mengwi biar tidak rancu mana yang mengwi.dan pengakuan masyarakat sana kok beda sekali dengan sejarah anda ya?bukan leluhur anda yang membangun pura dalem brerong ( Pura dalem Desa Adat mengwitani)apalagi membangun pura desa,penataran agung disana.dan pura dalem sari adalah pura dari kisah Nang Ketekan ( bukan pura kawitan raja Mengwi menurut babad Pupuan),saya mendapat info ini dari tokoh desa adat setempat.dan dalam babad anda tidak di jelaskan siapa itu ARYA MEGADA WANGSA? mohon penjelasan.

Berbicara mengenai siapa itu Megada Wangsa tentu jro Gede Pupuan ( yang lebih di kenal di mengwitani dengan nama KURI BARAK )sendiri yang bisa menjawabnya.tetapi ada hal yang janggal yang saya dapat dari membaca babad Kenceng Pupuan yang baru di bikin dan sempat di tolak oleh ahli sejarah yaitu Bpk. Ketut sudarsana ( Kapal ) karena tidak sesuai dengan kebenarannya ,yang saya tanyakan adalah : 1.Kalo Megada Wangsa itu adalah Megada Natha tentunya dia bukan treh Kenceng tegeh kori (Kyai Tegeh ) darimana dia dapat bukti bahwa dia keturunan Kyai tegeh sedangkan dia memakai nama Megada Wangsa ?

2.Kenapa sewaktu pacentokan Desa Adat se kabupaten Badung sejarah yang di bawa oleh Jro gede Pupuan di Tolak di desanya sendiri yaitu di Mengwitani?

3.Babad dan Purana yang tersimpan di PURI AGUNG TEGAL TAMU tercatat bahwa Kyai Anglurah tegeh Kori IV berputra :

  • 1. Kyai Anglurah Putu Agung Tegeh kori ( keterangan lebih lanjut bisa di baca di atas )
  • 2. Kyai Anglurah Made Tegeh
  • 3. Kyai Ayu Mimba ( Ayu Tegeh ) beliau yang menikah ke Kawya Pura ( Puri Ageng Mengwi )

yang jadi pertanyaan adalah Karna di Jro Pupuan mengakungaku sentana dari Kyai Anglurah made tegeh adalah mungkinkah seorang kakak kandung menikahi adiknya sendiri ?

4.Setelah Ida Betara Cokorda Mengwi lebar ( Ayah dari AA.Gede Agung / Bupati badung )barulah mereka berani memasang nama rumah dengan banyak perubahan yaitu Jro Ageng Mengwi berubah menjadi Jro Pupuan lalu Jro Ageng Pupuan lalu Puri Gede Pupuan kemudian kini Jro Gede Pupuan.Mungkinkah nama puri atau jro bisa berubah-ubah dalam waktu 2 tahun ?

SAYA HARAPKAN TEAM PENYUSUNAN BUKU SEJARAH DARI IDA BETARA ARYA KENCENG BERHATI -HATI MENERIMA MASUKAN SEJARAH APALAGI DARI SEKUMPULAN ORANG YANG MASIH BINGUNG AKAN KEPASTIAN MEREKA !!! SAYA PUNYA USUL :

  • 1.UNTUK URUSAN SEJARAH DAN PRESASTI DARI TREH ARYA KENCENG DI BADUNG BIARLAH : PURI AGUNG PEMECUTAN ,PURI AGUNG DENPASAR ,PURI AGUNG KESIMAN DAN PURI -PURI YANG MASIH MERUPAKAN TREH ARYA KENCENG YANG BERADA DI BADUNG YANG MENGURUS.
  • 2. UNTUK TREH KYAI TEGEH ( ARYA KENCENG TEGEH KORI ) BIARLAH PURI AGUNG TEGAL TAMU YANG MENGURUS KARENA KETURUNAN ASLINYA ADALAH MEREKA, TENTU BABAD DAN PURANA SERETA PRASASTI ADA PADA MEREKA, UNTUK MENGHINDARI KEPENTINGAN KELOMPOK YANG BINGUNG AKAN SEJARAH DAN MEMANFAATKAN SITUASI YANG ADA.
  • 3.UNTUK TABANAN BIARLAH PURI-PURI DAN ULUPADA YANG BERGERAK.

SETELAH MASING MASING RANGKUM BARULAH DI PERSATUKAN SESUAI PRASASTI DAN BABAD SERTA RAJA PURANA,TENTU HAL TERSEBUT MENGHEMAT WAKTU,BIAYA DAN TENAGA DAN KHUSUSNYA LEBIH BISA DI PERTANGGUNGJAWABKAN.MULAI DARI WARIH ARYA KENCENG KITA MULAI …BERSATULAH KARNA SESUATU YANG ASLI TENTU JAUH LEBIH INDAH DARIPADA YANG DIPOLES.SUGIH LACUR TETAP NYAMA !!! SUKSMA SEMOGA BERMANFAAT DAN KAMI TUNGGU REALEASE BUKUNYA.

[sunting] Sumber

  • Lontar-Lontar Kuno yang ada di beberapa Puri-Puri di Tabanan ( Puri Gede Krambitan, Puri Anom Tabanan, Puri Dangin Tabanan di Jegu dan lainnya ).
  • Lontar-Lontar Kuno dan Raja Purana di Puri Agung Tegal Tamu
  • Prasasti keturunan Arya Kenceng yang tersimpan di ;
    • - Puri Agung Tabanan
    • - Puri Agung Pemecutan
    • - Puri Peguyangan
    • - Puri Agung Denpasar
    • - Puri Agung Kesiman
    • - Puri Agung Tegal Tamu

ANALISA SITUASI DALAM PERENCANAAN KESEHATAN

ANALISA SITUASI DALAM PERENCANAAN KESEHATAN

Analisa situasi merupakan langkah awal cara  dalam perencanaan kesehatan. Secara konsepsual, analisa situasi kesehatan daerah adalah proses sistimatis untuk mengetahui masalah kesehatan disuatu daerah berikut kecendrungannya serta situasi factor factor yang mempengaruhi masalah kesehatan tersebut.

Kerangka konsep dan sistimatika analisa situasi kesehatan daerah didasarkan pada konsep Henrik L Blum tentang determinan derajat kesehatan penduduk, yaitu

  1. Genetika dan kependudukan
  2. Lingkungan Kesehatan
  3. Perilaku kesehatan
  4. Program dan pelayanan kesehatan

Kegiatan analisa situasi sebagian besar dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Akan tetapi dengan alasan kemampuan teknis , ada analisa tertentu yang mungkin perlu dilakukan dengan bantuan fihak lain dan hal ini sudah dan sedang dilakukan dengan melibatkan anggaran Pusat seperti Riskesdas, DHA, dan Surve Fasilitas Kesehatan hanya saja belum sepenunhnya dapat menggunakan hasilnya karena sedang berjalan tentu nantinya diharapkan akan menggunakan out put dari surve tersebut untuk melakukan analisa situasi dalam perencanaan kesehatan tahun 2012 selain kalau dinas kesehatan menganggap perlu lagi dilakukan survey rumah tangga untuk mendapatkan situasi riil ditengah penduduk, dapat pula survey tersebut dilakukan oleh pihak lain, misalnya institusi penelitian atau perguruan tinggi.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu dianalisa, yang akan dijelaskan satu persatu dalam pokok bahasan berikut:

  1. Demografi
  2. Masalah dan kecendrungan kesehatan
  3. Perilaku kesehatan
  4. Lingkungan kesehatan
  5. Program dan pelayanan kesehatan
  6. Kebijakan pembangunan kesehatan
  7. Kebijakan pembangunan daerah

Analisa data Susenas dan survey cepat adalah dua kegiatan yang berguna untuk mendukung kegiatan analisis situasi tersebut diatas

KESEHATAN SEBAGAI HAK AZASI DAN INVESTASI

1. Kesehatan sebagai hak azasi
Konstitusi WHO (1046) menyatakan bahwa kesehatan adalah hak azasi manusia yang fundamental. Hal ini kemudian ditegaskan kembali dalam Deklarasi Alma Ata (1978) dan Deklarasi Kesehatan Sedunia (1998).

Kesehatan adalah hak azasi berarti :
Pemerintah dan penentu kebijakan harus menetapkan kebijakan dan rencana kegiatan yang menjamin ketersediaan (availanbillity) dan keterjangkauan (accessability) pemeliharaan kesehatan untuk semua secepat mungkin. (WHO: Health and Human Right Publ. serien No. 1, July 2002)

Lebih lanjut beberapa indikator dalam menjamin kesehatan sebagai hak asasi adalah sebagai berikut:

1. Ketersediaan

    Program kesehatan masyarakat dan fasilitas pelayanan tersedia dalam jumlah     yang cukup

2. Keterjangkauan

    Pelayanan dan pemeliharaan kesehatan harus (1) terjangkau oleh semua orang dan bebas dari diskriminasi, (2) secara ekonomi dapat dijangkau, (3) semua orang dapat informasi yang sama dan benar

3. Dapat diterima (acceptability)

Program dan pelayanan kesehatan secara etis dan budaya dapat diterima oleh masyarakat sensitif terhadap isu gender

4. Mutu

Program dan pelayanan kesehatan harus memenuhi persyaratan ilmiah dan medis dan bermutu

Kesehatan sebagai investasi

dimuka sudah disimpulkan berapa besar kerugian ekonomi jangka pendek yang terjadi akibat masalah kesehatan. Artinya, apabila dilakukan investasi yang cukup untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan, misalnya demam berdarah, maka :

1. Biaya kesehatan rumah tangga akan berkurang

2. Produktifitas penduduk akan bertambah

3. Subsidi pemerintah untuk kesehatan akan menurun

Artinya investasi untuk kesehatan akan memberi ” return on investment” jangka pendek, yang sebagian besar langsung dinikmati oleh rumah tangga (penduduk)

Demikian juga investasi pada kesehatan ibu dan anak, akan menghasilkan generasi yang lebih bermutu, yang  nantinya akan meningkatkan efektipitas program pendidikan, dan meningkatkan kemampuan penduduk untuk menciptakan nilai tambah dalam kegiatan ekonomi, Artinya investasi kesehatan juga akan menghasilkan “return on investment” jangka panjang.

Mepianak Bareng

dikutip dari Berita Orti Bali
31 Oktober 2010 | BP
Pasamuan Agung Majelis Désa Pakraman Bali,
Saking Mapanak Bareng Ngantos Kasepékang
Pasamuan Agung kaping Majelis Désa Pakraman (MDP) Bali kaping tiga sané kamargiang duk rahina Sukra Umanis Ukir, tanggal Masehi 15 Oktober 2010, ring Wiswasabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Renon, Dénpasar, prasida mamargi antar tur ngamedalang pamuus becik. Ring sajeroning pasamuan kabligbagang makudang-kudang indik. Ring makudang-kudang indik punika wénten papat unteng sané kalintang mabuat lan patut kauratiang olih krama Baliné sami. Papat uneng inucap minakadi indik genah Anak Istri Bali ring Kulawarga lan sistem pewarisan, Pawiwahan lan papalasan, indik krama tamiu lan tamiu miwah sanksi adat kasepékang lan kanorayang.

Ngenénin genah anak istri Bali ring kulawarga lan sistém pewarisan Pasamuan nyumpuang makasami pianak, lanang istri miwah paperasan sané durung marabian madué hak sané pateh majeng artha brana kulawarganyané. Kénten talér ring anak istri lan lanang sané marabian. Anak istri miwah lanang sané nyeburin wenang nrima warisan majalaran antuk ketékan ategen asuun (kalih mabanding siki, inggih punika: yéning anak lanang sané dados ahli waris sané kabaos purusa molihang asiki, anak istri miwah lanang sané marabian utawi nyentana molihang warisan atengannyané. Kénten taler ri pété ipun mapalasang, pacang mawali bajang utawi truna sané kabaos mulih bajang lan mulih truna, mawinan taler madué hak lan kewajiban sané pateh kadi kawéntenannyané sadurung marabian. Kawéntenan puniki mamargi sangkaning anak istri sané marabian, miwah anak lanang sané nyentana utawi nyeburin wantah kabaos ninggal kedaton sementara.

Indik pawiwahan, Pasamuan Agung ring Wiswa Sabha, kantor Gubernur, ring Renon puniki ngamedalang pamuus indik kaapusnyané pawiwahan sané kabaos nyerod lan kawéntenan banten patiwangi. Kénten taler majeng krama lanang istri sané tan mrasidayang ngamargiang pawiwahan ngarorod miwah nyentana, prasida katepas antuk ngamargiang pawiwahan sané kabaos Mapanak Bareng utawi Négen Dadua. Keputusan pesamuan Agung indik pawiwahan Maoanak Bareng ring sawengkon Bali, kaaptiang olih Luh Putu Haryani, S.E., M.M., Kepala Badan Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali kaaptiang prasida dados sundih ri kala kulawarga-kulawarga Baliné nemu kapetengan.

“Nénten ja wantah oka lanang kémanten pinaka pewaris, oka istri taler pateh, duaning waris punika nénten wantah indik artha brana lan tetegenan mrajan lan pura kéwanten taler rah, gén, lan swadharma. Semaliha nénten ja sami kulawarga-kulawarga krama Baliné madué oka akéh lanang-istri, wénten taler sané wantah madué oka istri kéwanten. Mangdané kawéntenan puniki nénten dados pikobet abot pungkuran, patut karerehang pamargi. Pawiwahan Mapanak Bareng sayuwakti becik pisan anggén nepas pikobet kaputungan lan ngajiang oka-okanné i ragané,” baos dané.

Kawéntenan pablibagan sayan ramia ri kala maosang indik pamidanda sané kabaos kasepékang. Pabligbagan kadi mamucu dados kakalih, asiki sané kukuh mangdané krama sané kéni kesepékang tan kadadosang ka pura lan ngawigunayang sétra. Kukuhnyané para béndésa adat nibénin pamidanda kadi punika duaning manut para bendésa adat wantah sangkaning pamidanda punika pacang prasida ngawi désa adaté mataksu. Yadiastun pangawitné wénten pamilet sané kukuh ring sanksi kasepékang, pamuputné pasamuan muusang, sanksi kasepékang wantah nguwusan abosbos kramané mapikobet pinaka krama désa utawi banjar, kéwanten sadurung nedunang pamidanda kasepékang, prajuru patut sadurungné ngamargiang palétan-palétan pamidanda. Selami kasepékang krama inucap nénten molihang panyanggran (nénten molihang suaran kulkul ring sajeroning pidabdab kasukadukaan), kéwanten dados mabakti ka pura lan nganggén sétra. (ita)

[ Kembali ]